Wednesday, 15 October 2014
Selamat Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo ke - 63
SELAMAT HARI JADI KABUPATEN KULON PROGO KE 63, 15 OKTOBER 2014, SEMOGA SEMAKIN MAJU RAKYATNYA SEJAHTERA, AMAN TENTRAM DAN DAMAI.
Tuesday, 14 October 2014
Menuju Indonesia yang Makin Efisien
Siapapun
tentu sepakat, bahwa pembangunan tahun 2015 s/d 2019 adalah
pembangunan kompetitif perekonomian yang berbasis sumber daya alam
yang tersedia, sumber daya manusia yang berkualitas, serta kemampuan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam kondisi ini tidak ada pilihan lain bagi peningkatan penggunaan jaringan pita lebar (broadband) di tiga platform ini yang efeknya akan meningkatkan kedayagunaan dan ketepatgunaan proses dan hasil pembangunan.
Ini juga searah dengan fakta geografis bahwa konektivitas bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terkadang sulit diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur fisik, tetapi dimungkinkan melalui infrastruktur komunikasi maya, terutama jaringan koridor pita lebar (broadband).
Gambaran tersebut adalah kondisi ideal. Tetapi faktanya, Indonesia belum masuk ke dalam negara dalam kelompok yang digerakkan oleh efisiensi (efficiency-driven).
Penyebabnya karena teknologi informasi komunikasi (TIK) Indonesia belum secara optimal berkontribusi kepada peningkatan daya saing bangsa. Tingkat penetrasi internet dan fixed broadband termasuk yang relatif rendah di kawasan.
Infrastruktur TIK Indonesia saat ini belum berkontribusi secara optimal terhadap peningkatan daya saing nasional. Untuk itu, akselerasi pembangunan broadband sangat diperlukan.
Dalam kondisi ini tidak ada pilihan lain bagi peningkatan penggunaan jaringan pita lebar (broadband) di tiga platform ini yang efeknya akan meningkatkan kedayagunaan dan ketepatgunaan proses dan hasil pembangunan.
Ini juga searah dengan fakta geografis bahwa konektivitas bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terkadang sulit diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur fisik, tetapi dimungkinkan melalui infrastruktur komunikasi maya, terutama jaringan koridor pita lebar (broadband).
Gambaran tersebut adalah kondisi ideal. Tetapi faktanya, Indonesia belum masuk ke dalam negara dalam kelompok yang digerakkan oleh efisiensi (efficiency-driven).
Penyebabnya karena teknologi informasi komunikasi (TIK) Indonesia belum secara optimal berkontribusi kepada peningkatan daya saing bangsa. Tingkat penetrasi internet dan fixed broadband termasuk yang relatif rendah di kawasan.
Infrastruktur TIK Indonesia saat ini belum berkontribusi secara optimal terhadap peningkatan daya saing nasional. Untuk itu, akselerasi pembangunan broadband sangat diperlukan.
Monday, 22 September 2014
E-Blusukan ala Jokowi
Joko Widodo atau
Jokowi dikenal dengan gayanya yang gemar blusukan untuk mengetahui
masalah di masyarakat. Hal itu sudah dilakukannya sejak menjadi
Walikota Solo dan dilakukan kembali saat menjadi Gubernur DKI
Jakarta.
Kini, ketika ia menjadi presiden terpilih, blusukan tidak akan ditinggalkan. Namun, Jokowi menyadari tidak mungkin untuk blusukan keliling Indonesia. Oleh karena itu, ia membuat gebrakan baru dengan menghadirkan e-Blusukan.
"Bicara mengenai nanti sosmed untuk menjelaskan program kita pada masyarakat, tadi juga dibicarakan mengenai e-Blus," ujar Jokowi di Rumah Transisi, Jakarta, Kamis 7 Agustus 2014.
Program itu masih akan terus dibahas. Jokowi pun menerima kedatangan para pegiat media sosial untuk menciptakan program blusukan ini.
"E-Blusukan, kira-kira itu. Saya kalau blusukan ke seluruh provinsi kabupaten dan kota kan tidak memungkinkan. Kira-kira begitu, masih dalam penggodokan, pengolahan," imbuhnya.
Untuk bentuk programnya, Jokowi masih belum tahu. Bisa saja program blusukan itu seperti konferensi video. Yang pasti, Jokowi ingin bisa mendengar masukan dari seluruh rakyat Indonesia.
"Ya, medsos nanti akan betul-betul kita gunakan untuk mendengarkan suara rakyat, tidak harus ketemu langsung, bisa lewat Twitter dan Facebook," tegas Jokowi.
Jokowi menambahkan meski program e-Blusukan sudah ada, blusukan secara langsung tetap akan dilakukan. Jokowi sadar aplikasi tersebut hanya menjangkau kalangan menengah ke atas.
"Ya, untuk anak-anak muda mungkin bisa, kota-kota mungkin bisa, di desa kita (blusukan) langsung," tandas Jokowi.
Kini, ketika ia menjadi presiden terpilih, blusukan tidak akan ditinggalkan. Namun, Jokowi menyadari tidak mungkin untuk blusukan keliling Indonesia. Oleh karena itu, ia membuat gebrakan baru dengan menghadirkan e-Blusukan.
"Bicara mengenai nanti sosmed untuk menjelaskan program kita pada masyarakat, tadi juga dibicarakan mengenai e-Blus," ujar Jokowi di Rumah Transisi, Jakarta, Kamis 7 Agustus 2014.
Program itu masih akan terus dibahas. Jokowi pun menerima kedatangan para pegiat media sosial untuk menciptakan program blusukan ini.
"E-Blusukan, kira-kira itu. Saya kalau blusukan ke seluruh provinsi kabupaten dan kota kan tidak memungkinkan. Kira-kira begitu, masih dalam penggodokan, pengolahan," imbuhnya.
Untuk bentuk programnya, Jokowi masih belum tahu. Bisa saja program blusukan itu seperti konferensi video. Yang pasti, Jokowi ingin bisa mendengar masukan dari seluruh rakyat Indonesia.
"Ya, medsos nanti akan betul-betul kita gunakan untuk mendengarkan suara rakyat, tidak harus ketemu langsung, bisa lewat Twitter dan Facebook," tegas Jokowi.
Jokowi menambahkan meski program e-Blusukan sudah ada, blusukan secara langsung tetap akan dilakukan. Jokowi sadar aplikasi tersebut hanya menjangkau kalangan menengah ke atas.
"Ya, untuk anak-anak muda mungkin bisa, kota-kota mungkin bisa, di desa kita (blusukan) langsung," tandas Jokowi.
Sumber : Liputan 6.com
Desa Merupakan Akar dari Suatu Negara
Sebuah negara yang memiliki wilayah luas seperti Indonesia tentu memiliki keaneragaman budaya dan potensi di dalamnya. Semua itu terletak di sebuah wilayah yang paling kecil dari sebuah negara, yaitu desa.
Desa seringkali luput dari pemberitaan publik, padahal desa itu merupakan akar dari suatu negara khususnya Indonesia. Apabila potensi yang ada di seluruh desa dapat dimaksimalkan, tentunya pembangunan di negeri ini akan semakin lebih mudah.
Membangun suatu negara memang harus dimulai dari yang terkecil yaitu desa. Apabila desa-desa sudah mandiri dan saling berkontribusi, tentunya akan berdampak pada Negara secara menyeluruh.
Oleh karena itu jangan lupakan desa, karena desa akar dari suatu negara.
Tuesday, 19 August 2014
Undang Undang No 6 Tentang Desa
Sumber : http://peraturantentangdesa.blogspot.com/search?updated-max=2014-04-17T11%3A13%3A00%2B07%3A00&max-results=1
http://peraturantentangdesa.blogspot.com/
http://peraturantentangdesa.blogspot.com/
Nanggulan Telecenter ( Craft )
sumber: www.jtec.org.mm/evillage/pdf/4_Indonesia.pdf
Telecenter Rural tidak hanya proyek untuk umum
layanan, tetapi bagian dari transformasi Program nasional
Thursday, 17 July 2014
News in Indonesia unicef, volunteer facilitator at the same PLIK Nanggulan 2 family program hopes to prevent child neglect and exploitation through family development sessions
From UNICEF Indonesia
By:
Astrid Gonzaga Dionisio, Child Protection Specialist
Yogyakarta, June
2014 - When I attended a discussion on child protection
in Yogyakarta recently, one of the participants really stood out.
Ibu Prihatin is a mother of three and
a graduate of junior high school from Kulon Progo District. She
understands very well what is needed to provide her children with
all the support they need to succeed in school – and she loves to
talk about it.
“We have to make
sure they have breakfast in the morning and that their uniforms are
clean and in order,” she said when participants were asked to
discuss how to prevent neglect.
Ibu Prihatin has been participating in
the Family Hope Programme (PKH - Program Keluarga Harapan)
since 2008. Through the programme, the Indonesian government
provides conditional cash transfers to the poorest families to
improve their access to health and education services.
One of the conditions is
that family members attend these kind of family development sessions
to better understand the impact of child neglect and how to prevent
it. They also learn about the risks of exploitation, be it for
labour or even worse for prostitution.
![]() |
Ibu Prihatin read out result from group
discussion on what needs to be done to prevent child neglect.
© UNICEF Indonesia/2014/Astrid Dionisio |
Children have a right to
basic necessities like food, clothing, shelter and education. And
they have a right to be protected from all forms of exploitation and
abuse. However, parents are often not aware of the risks and the
impact of neglect and exploitation.
Ibu Prihatin said this
was the first time she had heard such subjects discussed.
“The topics are
interesting,” she said. “I have learned many things that will
help me bring up and nurture my children better, so they can succeed
in their education and are prepared for their later life.”
She hopes the family
development sessions will help prevent child neglect and
exploitation in the community and she wants to support her three
children to attain higher education.
Apart from the child
protection modules, beneficiaries of the PKH programme must also
attend sessions that focus on education, health and nutrition as
well as economic empowerment.
UNICEF has helped to
develop these sessions. The discussion I attended, on child
protection, was a field test to see how much the participants
learned about the subject.
In future, family
development sessions will be run by the PKH facilitators.
One of them is Sapti Puji
Rahayu who was recruited in 2008 for Kulon Progo district, covering
180 beneficiary households.
Sapti Puji Rahayu, PKH Facilitator in Kulon
Progo, Yogyakarta.
© UNICEF Indonesia/2014/Astrid Dionisio |
Sapti ran the fielding
testing session that I attended.
She said discussing all
topics on violence, exploitation and neglect were relevant and
important for protecting children.
“I have found
such cases in our community, and children are suffering,” she
said. “It is important that parents are aware of the risks and the
consequences.”
Sapti says she found some
children in the community who were working instead of going to
school. Others dropped out of classes because their parents weren’t
making sure they attended.
Sapti has enjoyed working
with vulnerable members of the community. “My most memorable
experience was my success in helping a family to obtain their civil
registration documents including birth registration for their
children so they could access education and other services.”
![]() |
Sapti Puji Rahayu (standing) facilitates the
discussions with PKH beneficiaries.
© UNICEF Indonesia/2014/Astrid Dionisio |
After seeing the family
development session in action, I feel optimistic. The group was open
to talking about sensitive issues like child exploitation and
neglect. Changing this will take time, but the sessions definitely
make a difference and I am proud that we at UNICEF can help make
them as effective as possible.
We need more Saptis who
are willing to listen, work and stay in the community to create
change for the most vulnerable groups, especially children.
Subscribe to:
Posts (Atom)










