Perbukitan Menoreh dilihat dari atas Hotel Alana Yogyakarta
Monday, 25 April 2016
Kegiatan Plik
Fasilitasi Penjualan Bibit Kambing PE Oleh PLIK Nanggulan 2
Suasana Pengajian Rutin Bulanan di PLIK Nanggulan 2
Suasana Pengajian Rutin Bulanan di PLIK Nanggulan 2
Sunday, 6 March 2016
PLIK Nanggulan 2 jadi salah satu titik Edukasi Kawasan Tanpa Rokok Kabupaten Kulon Progo
Pemerintahan Kabupaten Kulon Progo pada tanggal 22 April 2014 telah menetapkan Peraturan Daerah Kulon Progo Nomor 5 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Penetapan Kawasan Tanpa Asap Rokok dimaksudkan untuk:
- melindungi masyarakat dan/atau kelompok rentan (bayi, balita, ibu hamil, dan lanjut usia) terhadap resiko ancaman gangguan kesehatan akibat asap rokok; dan
- menurunkan angka kesakitan
dan/atau angka kematian akibat asap rokok dengan cara mengubah
perilaku masyarakat untuk hidup sehat.
Penetapan Kawasan Tanpa Asap Rokok itu sendiri bertujuan untuk:
- mewujudkan kesadaran perilaku merokok pada perokok aktif untuk melindungi perokok pasif;
- mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih; dan
- mewujudkan masyarakat yang
sehat.
Pencanangan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014 menjadi hal sangat membahagiakan rakyat Kulon Progo, karena Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sangat meperdulikan hak-hak kesehatan masyarakat, sebagai amanah konstitusi. Komitmen Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk memenuhi hak-hak masyarakat atas udara yang bersih dan segar, melindungi paparan asap rokok bagi perokok pasif, dan pada akhirnya mewujudkan masyarakat Kulon Progo yang sehat lahir dan batin.
Menindaklanjuti pelaksanaan perda tersebut, Muhammadiyah Tobacco Control Centre (MTCC UMY) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kulon Progo mengadakan rangkaian acara capacity building yang bertujuan untuk meningkatkan penguatan terhadap implementasi perda. Kegiatan tersebut terdiri dari:
- Pelatihan Training of Trainer (TOT), yang bertujuan untuk melatih advokasi, pemahaman KTR, tugas satuan tugas, monitoring dan evaluasi program. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 10 November 2015 yang direncanakan diikuti oleh 44 peserta dari satgas kabupaten dan kecamatan.
- Pelatihan KTR, dilakukan pada tanggal 16-28 November. Rangkaian kedua ini memiliki tujuan yang sama dengan pelatihan TOT. Peserta kegiatan ini adalah 88 perangkat desa, 88 kader, dan 24 peserta dari kecamatan.
- Workshop Focus Group Discussion (FGD), yang bertujuan agar peserta paham terhadap aturan hukum KTR dan penggunaan perangkat penilaian program KTR. Worshop ini direncanakan pada tanggal 16-17 November 2015.
- Monitoring KTR pada 1000 titik (tempat) yang bertujuan untuk menilai implementasi KTR, permasalahan implementasi serta potensi dari implementasi.
- Monitoring Uji petik yang akan dilakukan pada 12 kecamatan. Kegiatan ini bertujuan sebagai proses evaluasi dengan pengambilan data terhadap hasil dari implementasi KTR. Evaluasi dari kegiatan ini berupa rekapitulasi data dan analisis terhadap kepatuham implementasi.
- Deklarasi Smoke Free Area
(KTR) yang akan dilakukan pada tanggal 4 Desember 2015.
Saturday, 5 March 2016
BTPN WOW - LAKU PANDAI Kini hadir di PLIK Nanggulan 2 Desa Banyuroto
-
Pemerintah
indonesia mencanangkan program Strategi
Nasional Inklusif
(SNKI) pada bulan juni 2012, yang salah satu programnya adalah
Brancchless Banking.
Surat Edaran Otoritas Keuangan (SEOJK) No 6/SEOJK.03.2015 mengenai layanan keuangan tanpa kantor dalam rangka keuangan inklusif oleh Bank pada tanggal 6 februari 2015.
LATAR BELAKANG
Faktor Masyarakat :
- Jarak yang jauh ke kantor bank.
- Pendaftaran rendah.
- Dokumen identitas
- Bukan
untuk masy kecil
- Pendirian
kantor cabang.
-
Laku
Pandai singkatan dari “
Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan inklusif
” , yaitu Program pengembangan perbankan dan/atau layanan keuangan
lainya melalui kerjasama dengan pihak lain ( Agen Bank ) dan didukung
oleh penggunaan sarana teknologi informasi.
” Branchless Banking : Layanan keuangan tanpa kantor.
” Keuangan Inklusif : Upaya pengurangan hambatan masyarakat untuk menggunakan layanan perbangkan.
Model Laku Pandai
- Nasabah bisa bertransaksi seperti info saldo, beli pulsa, bayar tagihan dan kirim uang langsung melalui hape.
- Agen
menggantikan peran bank yaitu untuk pembukaan
rekening, tarik tunai dan setor saldo.
Tentang Btpn Wow
BTPN
WOW adalah
layanan Perbankan Plus yaitu layanan perbankan umum seperti pembukaan
rekening, penyetoran dan penarikan kas,
mengirim
dana secara elektrik, pembayara tagihan dan pembayaran pulsa,
Semuanya
dilakukan melalui jaringan seluler dan telefon genggam ( HandPhone )
dengan biaya yang sangat ringan.
Tuesday, 1 March 2016
Siap & Hadapi MEA(Masyarakat Ekonomi Asean)
Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) / AEC (Asean Economic Community) 2015 adalah
proyek yang telah lama disiapkan seluruh anggota ASEAN yang bertujuan
untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN dan
membentuk kawasan ekonomi antar negara ASEAN yang kuat. Dengan
diberlakukannya MEA pada akhir 2015, negara anggota ASEAN akan
mengalami aliran bebas barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja
terdidik dari dan ke masing-masing negara. Dalam hal ini, yang perlu
dilakukan oleh Indonesia adalah bagaimana Indonesia sebagai bagian
dari komunitas ASEAN berusaha untuk mempersiapkan kualitas diri dan
memanfaatkan peluang MEA 2015, serta harus meningkatkan kapabilitas
untuk dapat bersaing dengan Negara anggota ASEAN lainnya sehingga
ketakutan akan kalah saing di negeri sendiri akibat
terimplementasinya MEA 2015 tidak terjadi.
Pemerintah
telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2011
tentang Pelaksanaan Komitmen Cetak Biru MEA dalam upaya persiapan
menghadapi pasar bebas ASEAN. Dalam cetak biru MEA, terdapat 12
sektor prioritas yang akan diintegrasikan oleh pemerintah. Sektor
tersebut terdiri dari tujuh sektor barang yaitu industri agro,
otomotif, elektronik, perikanan, industri berbasis karet, industri
berbasis kayu, dan tekstil. Kemudian sisanya berasal dari lima sektor
jasa yaitu transportasi udara, kesehatan, pariwisata, logistik, dan
teknologi informasi. Sektor-sektor tersebut pada era MEA akan
terimplementasi dalam bentuk pembebasan arus barang, jasa, investasi,
dan tenaga kerja.
Sejauh
ini, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia berdasarkan
rencana strategis pemerintah untuk menghadapi MEA / AEC, antara lain
:
1. Penguatan
Daya Saing Ekonomi
Pada
27 Mei 2011, Pemerintah meluncurkan Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI merupakan
perwujudan transformasi ekonomi nasional dengan orientasi yang
berbasis pada pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, berkualitas,
dan berkelanjutan. Sejak MP3EI diluncurkan sampai akhir Desember 2011
telah dilaksanakan Groundbreaking sebanyak
94 proyek investasi sektor riil dan pembangunan infrastruktur.
2. Program
ACI (Aku Cinta Indonesia)
ACI
(Aku Cinta Indonesia) merupakan salah satu gerakan ‘Nation
Branding’
bagian dari pengembangan ekonomi kreatif yang termasuk dalam Inpres
No.6 Tahun 2009 yang berisikan Program Ekonomi Kreatif bagi 27
Kementrian Negara dan Pemda. Gerakan ini sendiri masih berjalan
sampai sekarang dalam bentuk kampanye nasional yang terus berjalan
dalam berbagai produk dalam negeri seperti busana,
aksesoris, entertainment,
pariwisata dan lain sebagainya. (dalam Kemendag RI : 2009:17).
3. Penguatan
Sektor UMKM
Dalam
rangka meningkatkan pertumbuhan UMKM di Indonesia, pihak Kadin
mengadakan mengadakan beberapa program, antara lainnya adalah
‘Pameran Koperasi dan UKM Festival’ pada 5 Juni 2013 lalu yang
diikuti oleh 463 KUKM. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan
produk-produk UKM yang ada di Indonesia dan juga sebagai stimulan
bagi masyarakat untuk lebih kreatif lagi dalam mengembangkan usaha
kecil serta menengah.
Selain
itu, persiapan Indonesia dari sektor Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah (KUKM) untuk menghadapi MEA 2015 adalah pembentukan Komite
Nasional Persiapan MEA 2015, yang berfungsi merumuskan langkah
antisipasi serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan KUKM
mengenai pemberlakuan MEA pada akhir 2015.
Adapun
langkah-langkah antisipasi yang telah disusun Kementerian Koperasi
dan UKM untuk membantu pelaku KUKM menyongsong era pasar bebas ASEAN
itu, antara lain peningkatan wawasan pelaku KUKM terhadap MEA,
peningkatan efisiensi produksi dan manajemen usaha, peningkatan daya
serap pasar produk KUKM lokal, penciptaan iklim usaha yang kondusif.
Namun,
salah satu faktor hambatan utama bagi sektor Koperasi dan UKM untuk
bersaing dalam era pasar bebas adalah kualitas sumber daya manusia
(SDM) pelaku KUKM yang secara umum masih rendah. Oleh karena itu,
pihak Kementrian Koperasi dan UKM melakukan pembinaan dan
pemberdayaan KUKM yang diarahkan pada peningkatan kualitas dan
standar produk, agar mampu meningkatkan kinerja KUKM untuk
menghasilkan produk-produk yang berdaya saing tinggi.
Pihak
Kementerian Perindustrian juga tengah melaksanakan pembinaan dan
pemberdayaan terhadap sektor industri kecil menengah (IKM) yang
merupakan bagian dari sektor UMKM. Penguatan IKM berperan penting
dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui perluasan kesempatan kerja
dan menghasilkan barang atau jasa untuk dieskpor. Selain itu,
koordinasi dan konsolidasi antar lembaga dan kementerian pun terus
ditingkatkan sehingga faktor penghambat dapat dieliminir.
4. Perbaikan
Infrastruktur
Dalam
rangka mendukung peningkatan daya saing sektor riil, selama tahun
2010 telah berhasil dicapai peningkatan kapasitas dan kualitas
infrastruktur seperti prasarana jalan, perkeretaapian, transportasi
darat, transportasi laut, transportasi udara, komunikasi dan
informatika, serta ketenagalistrikan :
- Perbaikan Akses Jalan dan Transportasi
- Perbaikan dan Pengembangan Jalur TIK
- Perbaikan dan Pengembangan Bidang Energi Listrik.
5. Peningkatan
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Salah
satu jalan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah melalui jalur
pendidikan. Selain itu, dalam rangka memberikan layanan pendidikan
yang bermutu, pemerintah telah membangun sarana dan prasarana
pendidikan secara memadai, termasuk rehabilitasi ruang kelas rusak
berat. Data Kemdikbud tahun 2011 menunjukkan bahwa masih terdapat
sekitar 173.344 ruang kelas jenjang SD dan SMP dalam kondisi rusak
berat. (dalam Bappenas RI Buku I, 2011:36).
6. Reformasi
Kelembagaan dan Pemerintahan
Dalam
rangka mendorong Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi,
telah ditetapkan strategi nasional pencegahan dan pemberantasan
korupsi jangka panjang 2012-2025 dan menengah 2012-2014 sebagai acuan
bagi seluruh pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi setiap
tahunnya. Upaya penindakan terhadap Tindak Pidana Korupsi (TPK)
ditingkatkan melalui koordinasi dan supervisi yang dilakukan oleh KPK
kepada Kejaksaan dan Kepolisian.
Sementara
itu, sebagian pendapat menyatakan bahwa Indonesia
Belum Siap akan
MEA 2015. Salah satunya,Direktur
Eksekutif Core Indonesia (Hendri Saparini) menilai
persiapan yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menghadapi
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 masih belum optimal. Pemerintah
baru melakukan sosialisasi tentang “Apa Itu MEA” belum pada
sosialisasi apa yang harus dilakukan untuk memenangi MEA. Sosialisasi
“Apa itu MEA" yang telah dilakukan pemerintah pun ternyata
masih belum 100% karena sosialisasi baru dilaksanakan di 205
kabupaten dari jumlah 410 kabupaten yang tersebar di seluruh wilayah
Indonesia.
Hendri
menjelaskan besarnya komitmen pemerintah terhadap kesepakatan MEA
ternyata bertolak belakang dengan kesiapan dunia usaha. Menurutnya
dari hasil in-depth
interview Core
dengan para pengusaha ternyata para pelaku usaha bahkan banyak yang
belum mengerti adanya kesepakatan MEA. Dia mengatakan salah satu
strategi yang dipersiapkan pemerintah menjelang MEA adalah Indonesia
harus menyusun strategi industri, perdagangan dan investasi secara
terintegrasi karena dengan adanya implementasi MEA beban defisit
neraca perdagangan akan semakin besar maka dari itu membuat strategi
industri harus menjadi prioritas pemerintah.
Strategi
dan persiapan yang selama ini telah dilakukan oleh para stake
holder yang
ada di Indonesia dalam rangka menghadapi sistem liberalisasi yang
diterapkan oleh ASEAN, terutama dalam kerangka integrasi ekonomi
memang dirasakan masih kurang optimal. Namun hal tersebut memang
dilandaskan isu-isu dalam negeri yang membutuhkan penanganan yang
lebih intensif. Diperlukan kedisiplinan dari pihak pemerintah,
terutama yang berkaitan dengan wacana persiapan menghadapi realisasi
AEC ditahun 2015, yaitu dengan peningkatan pengawasan terhadap
perkembangan implementasi sistem yang terdapat dalam Blue Print
AEC.
Sumber
:
Investor
Daily.
Kementrian
Perdagangan Republik Indonesia.2009, “Menuju
ASEAN Economic Community
2015”,
Jakarta.
KPPN/Bappenas.2012.”Rencana
Kerja Pemerintah Tahun 2013”.Buku
I.
KPPN/Bappenas.2013.”Rencana
Kerja Pemerintah Tahun 2013”.Buku
II.
Sholeh.
2013. “Persiapan Indonesia Dalam Menghadapi AEC (Asean
Economic Community)
2015”. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 2013, 1 (2): 509-522.
Sunday, 28 February 2016
Telkom ingin Wujudkan 300 Kampung UKM Digital di 2016
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui Divisi Business Service (DBS) tak cepat berpuas diri dengan keberhasilan menyiapkan 60 Kampung UKM Digital di seluruh Indonesia pada 2015 lalu.
“ Tahun 2016 ini, kami akan memperbanyak Kampung UKM Digital di luar Pulau Jawa. Potensinya masih sangat besar. Kami meyakini target 300 Kampung UKM Digital dapat tercapai dengan memaksimalkan peran 58 kantor Wilayah Telekomunikasi (Witel) yang ada ” ungkap Direktur Enterprise & Business Service Telkom Muhammad Awaluddin kepada IndoTelko dalam pesan singkat, Kamis (7/1)
Diungkapkannya, selama 2015 jika dilihat dari sebaran, Kampung UKM Digital paling banyak di Pulau Jawa yakni sekitar 58% dari total yang ada. Berikutnya, Sumatera sekitar 27%, Kalimantan 8%, Balinusra 6%, dan Sulawesi 1% kampung UKM Digital.
Dalam waktu dekat, Telkom tengah menyiapkan beberapa lokasi Kampung UKM Digital seperti, Sentra Tenun Wajo - Sengkang Sulawesi Selatan, Kampung Pengrajin Gendang-Kediri, Kampung UKM Batik Probolinggo, Kampung Peternakan Puyuh – Sukabumi, Kampung UKM Jeruk Kalamansi-Bengkulu dan Kampung Kerajinan Kulit-Magetan.
Sekadar diketahui, kampung UKM Digital dilansir Telkom sejak Juni 2015 untuk melengkapi gerakan pengembangan UKM yang telah dicanangkan seperti roadshow BAGUS Indonesia, Sentra UKM, Kampung Nelayan Digital.
Telkom dapat berbangga, program Kampung UKM Digital tersebut merupakan pionir dalam program pengembangan UKM berbasis teritory dan komunitas. Terbukti dengan diterimanya penghargaaan Adibakti Mina Bahari (AMB) dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk lokasi Kampar-Riau. Bahkan Kampung UKM Digital Keranggan Tangerang Selatan sempat dikunjungi sebuah Lembaga Pemerintah dari Korea Selatan sebagai benchmark.
“ Upaya mewujudkan 300 Kampung UKM tersebut, juga merupakan bagian dari program 3 Juta UKM Goes Digital pada tahun 2016 ini. Kita harus tetapkan target tinggi dan konsisten mengejarnya kalau mau sukses. Telkom kalau mengerjakan sesuatu harus berdampak luas dan sistemik, ” tambah Awaluddin.
Menurutnya, kehadiran Kampung UKM Digital bermakna bagi masyarakat dan negara Indonesia. Terlebih dalam memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN.
“ Kami turut mendukung UKM Indonesia untuk memenangi segala peluang yang ada di pasar ASEAN. Khusus utk MEA ini, kami luncurkan tagar khusus sebagai kampanye utama, #UKMIndonesiaWinningMEA “ pungkasnya.
Sumber:www.indotelko.com
Saturday, 30 January 2016
Telkom Dekati Community Leader Demi UKM Goes Digital
PT
Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui Divisi Business Service
(DBS) mendekati sejumlah Community Leader yang bergerak dalam
pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk menyukseskan
program UKM Goes Digital.
“Kami sadar tak bisa sendirian
membawa UKM Goes Digital. Kita harus bergandengan dengan semua
pihak sesuai kompetensi untuk berkolaborasi. Istilahnya, gotong
royong memperkuat UKM Indonesia. Forum komunikasi model ini sangat
bagus dan bermanfaat untuk saling berbagi serta memperkuat program
pengembangan UKM Indonesia ,” ungkap Direktur Enterprise &
Business Service Telkom, Muhammad Awaluddin, kemarin.Para pemerhati UKM yang hadir dalam kumpul-kumpul ala Telkom DBS diantaranya Subiakto (Pakar Branding UKM), Dwita S. (Founder Rumah UKM), Rizky (Komunitas Organik Indonesia), Yuszak (Komunitas Onein20), Jaya Setiabudi (Founder YukBisnis), Mustofa (Presiden TDA), Diah Yusuf (Komunitas Women Academia), Yuswohady (Komunitas Memberi), Yan Razif (Koperasi IKM).
“Kolaborasi ini sangat penting dengan tujuan bersama, membangun UKM Indonesia. Minimal berkontribusi dari sisi peningkatan pengetahuan UKM, bagaimana membangun Brand, strategi pemasaran, penggunaan aplikasi-aplikasi untuk kemudahan proses bisnis UKM, dan ide lainnya,” ujar Yuswohady yang selama ini sangat aktif mengembangkan UKM bersama Komunitas Memberi dan diamini para hadirin.
Telkom selaku tuan rumah menjelaskan berbagai program yang telah dan sedang dijalankan. “Sejak 2010, Telkom fokus menggarap segmen UKM ini. Berbagai program kami luncurkan. Dalam perjalanannya, hingga tahun 2015 kami menyebutnya dengan strategi Re-Make,” tambah Awaluddin.
Ada 3 hal penting dalam strategi Re-Make tersebut (3-T); Transform, berupa mengajak sebanyak-banyaknya UKM untuk mengenal dan memanfaatkan ICT dalam bisnisnya.
Kedua, Technology dimana kami menyediakan infrastructure berupa akses wifi dan aplikasi-aplikasi khusus untuk UKM (Jarvis-store, blanja.com, elkassa, dan lainnya).
Terakhir Translate bagaimana mengakselerasi UKM untuk dapat menikmati ICT berperan dalam menghasilkan revenue bagi bisnisnya.
Sekilas informasi, hingga akhir tahun 2015, Telkom berhasil mengajak 1.007.076 UKM Goes Digital serta 60 Kampung UKM Digital. Dan pada tahun 2016 ini, Telkom telah mencanangkan 3 Juta UKM Goes Digital dan 300 Kampung UKM Digital.
Strategi 2016
Untuk tahun 2016, Telkom telah menyiapkan strategi Re-Model. Pertama, Collaborate. Kolaborasi ini sangat penting.
“Tidak mungkin Telkom bergerak sendiri, nah, para Community Leader yang selama ini telah menjalankan peran dalam pengembangan kompetensi dan kapabilitas pelaku UKM, kami ajak untuk saling berkolaborasi. Saling melengkapi sehingga apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pelaku UKM dapat terpenuhi secara mudah dan integrated,” tutur Awaluddin yang turut memperkenalkan bukunya : Digital EntrepreneurShift (Gramedia, Nov 2015) kepada para tamu yang hadir.
Selanjutnya, Create dengan kompetensi dan kapabilitas UKM yang semakin mumpuni ditunjang pemanfaatan ICT, akan menghasilkan berbagai kreatifitas baru.
Terakhir Confidence dimana para pelaku UKM akan semakin percaya diri untuk mengembangkan bisnisnya hingga mendunia. “Singkatnya, konsep 2016 ini CoCreaCon atau 3C,” katanya sambil tersenyum ramah.
Sumber:www.indotelko.com
Subscribe to:
Posts (Atom)












